Selasa, 24 Desember 2013

SEPUCUK SURAT DARI "PAHLAWAN"KU (SYAH GHINA RAHMI LUBIS)


SEPUCUK SURAT DARI "PAHLAWAN"KU
Oleh : SYAH GHINA RAHMI LUBIS
(Kader KKD MAN 2 Model Medan)

“Astaghfirullah sudah masuk! Lagi-lagi aku terlambat!”, cerutu Risfa seraya berlari menuju pekarangan sekolah.
            “Hei mau kemana kau? Tak kau lihat jam berapa sekarang ini, hah?”,  tegur Pak Amri, selaku guru BK di sekolahnya.
            “Jam 7.25 pak”,  jawab Risfa santai.
            “Kau sudah terlambat 10 menit! Kenapa sih kamu Risfa? Sudah hampir 2 tahun sekolah di sini, tapi selalu saja terlambat. Sana…, masuk ke ruangan saya!”, perintah Pak Amri.
            Dengan wajah cemberut, Risfa pun masuk ke ruangan BK untuk diproses dan tentu saja diberi nasihat-nasihat seperti biasa yang membuat ia bosan. Risfa memang membenci peraturan di sekolahnya. Baginya ini bukanlah suatu hal yang hebat. Walaupun semua sekolah yang lain di daerahnya sangat bangga dengan sekolah Risfa yang terkenal disiplin. Tapi baginya tidak! Ia menganggap semuanya berlebihan. Jelas saja, sekolah-sekolah yang lain pada umumnya masuk pukul 07.30 WIB bahkan ada yang pukul 08.00 WIB. Sedangkan sekolahnya…??? Pukul 07.15 WIB! Tentu saja ini berat bagi seseorang yang susah bangun di pagi hari seperti Risfa.
            “Kesiangan lagi kamu, nak?”, tanya Pak Amri.
            “Iya, pak. Seperti biasa”, jawabnya jutek.
            “Teman-teman kamu yang lain kenapa bisa bangun cepat dan mereka tidak terlambat masuk sekolah? Mereka bisa karena menghilangkan rasa malasnya dan memiliki keinginan yang besar untuk sekolah. Kamu sudah besar, Risfa. Seharusnya kamu bisa berfikir dewasa, Nak. Kamu ini adalah calon seorang ibu. Kelak kau akan menjadi seorang ibu yang tentu saja membangunkan suami dan anak-anakmu. Bagaimana kalau kamu terus seperti ini, Nak? Berpikirlah…”, nasihat Pak Amri kepada Risfa.
“Iya, pak. Saya masih ingat sama nasihat bapak kok. Dari kemarin-kemarin kan itu juga nasihatnya”, jawab Risfa dengan kesal.
Pak Amri hanya geleng-geleng kepala saja melihat tingkah Risfa. Ia menganggap Risfa masih kekanak-kanakan dan belum memahami kewajibannya sebagai pelajar.
***
            “Kamu gak kasihan melihat Pak Amri? Dia itu guru BK, Ris. Masih banyak siswa/i yang harus diurusnya. Bukan hanya kamu. Berubah, dong Ris. Jangan nambah beban Pak Amri, deh. Dia itu baik banget, loh. Nasihat-nasihatnya juga super banget untuk kebaikan murid-muridnya. Guru paling oke, deh! Bak kata pepatah: Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Ikhlas banget mendidik kita semua”, kata Shanti, teman sebangku Risfa.
            “Halah! Biarin aja. Emangnya aku peduli? Habisnya nyebelin banget, Shan. Setiap pagi, bel masuknya jam 07.15. Aku kan masih ngantuk,”, jawab Risfa sedikit kesal.
            “Kamu sih memang bandel. Ya sudah deh terserah kamu aja”,
***
            Hari ini berbeda. Semua siswa/i yang datang terlambat, tidak diproses di ruang BK. Semua diberi izin oleh guru untuk masuk ke kelas. “Kemana ya Pak Amri? Apa dipecat? Bagus, deh…”, gumam Risfa seraya berlompat-lompat menuju kelasnya.
            “Murid-murid sekalian, mari kita berdoa untuk kesembuhan Pak Amri. Tadi malam asmanya kambuh dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit”, kata Pak Ihsan kepada murid-murid di kelas Risfa.
“Asma…? Sejak kapan Pak Amri sakit Asma, ya? Bahkan selama ini dia juga jarang sekali sakit,tapi ya sudahlah! Yang terpenting, selama dia sakit dan tidak berhadir ke sekolah, aku bebas dari ruangan BK kalau terlambat, pikir Risfa dalam hati.
Ternyata memang benar. Selama seminggu ini Risfa sangat bebas tanpa beban ke sekolah meskipun terlambat. Ia tidak lagi diproses di ruang BK dan mendengarkan nasihat yang berulang-ulang dari Pak Amri. Tetapi entah mengapa, hati kecilnya malah memiliki rasa rindu dengan Pak Amri yang selama ini tak bosan menasihatinya, walaupun ia masih saja bandal dan tidak berubah.
Sudah hampir seminggu, Pak Amri tak kunjung sembuh. Tak disangka hari ini dikabarkan bahwa ia meninggal dunia setelah selesai melaksanakan sholat subuh di rumah sakit.
Hari itu juga, seluruh warga sekolah sangat bersedih telah kehilangan sosok guru yang tulus mendidik murid-muridnya, termasuk Risfa. Ia merasa menyesal karena selama ini tidak pernah memperlihatkan perubahannya pada Pak Amri. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia langsung pergi melihat jenazah Pak Amri yang kini telah dibawa pulang ke rumah. Sesampainya di sana, airmata Risfa semakin deras karena melihat sosok yang sangat sabar mendidiknya selama ini ternyata sekarang sudah tiada. Risfa pun langsung duduk di samping jenazah Pak Amri dan terus berdoa untuk beliau.
            “Nak, kamu yang bernama Risfa?”, seseorang menegur Risfa dan ternyata itu adalah istri pak Amri.
            “Iya bu. Ada apa bu?”, tanya Risfa.
            “Ini ada sepucuk surat dari almarhum untuk kamu,”,
Risfa pun membaca isi surat dari Pak Amri, hati dan tangannya bergetar, matanya juga semakin berkaca-kaca.
            Nak, manusia pasti akan selalu bertemu dengan berbagai masalah. Tetapi harus diakui bahwa masalah-masalah tersebut membuat manusia bisa semakin bertumbuh dan makin sempurna. Setiap manusia bisa berbuat salah, tetapi setiap manusia juga bisa memperbaiki kesalahan meskipun tidak bisa untuk dihapuskan. Masalahmu saat ini adalah kau malas untuk bangun cepat di pagi hari. Kau harus memperbaikinya, Risfa. Jika ada kemauan, pasti bisa. Jangan sampai kau menyesal tidak bisa lagi bangun untuk selamanya seperti bapak sekarang. Bapak harap kamu bisa berubah. Buktikan pada kedua orangtuamu bahwa kau bisa menjadi muridku yang hebat!
                                                                                                                        Salam sayang,
                                                                                                                           Pak Amri
Setelah membaca isi surat tersebut, maka Risfa pun menangis sederas-derasnya. Ia menyesal tidak pernah bisa meringankan beban Pak Amri yang selama ini pasti sangat lelah mengurus permasalahan dirinya. Ia menyesal karena selama ini membenci nasihat-nasihat Pak Amri. Ia sangat menyesal karena kini ia tak bisa lagi memperlihatkan pada Pak Amri bahwa ia bisa berubah.
Sampai ia menutup mata untuk selamanya, pun, ia masih sempat untuk menasihatiku. Alangkah bodohnya aku selama ini tidak mau mendengar nasihat guru yang seakan adalah pahlawan tanpa tanda jasa bagiku. Saya menyesal, Pak. Maafkan Risfa, Pak. Mulai sekarang Risfa berjanji akan berubah. Akan menghilangkan rasa malas, akan bangun cepat di pagi hari, akan mendengarkan nasihat-nasihat orangtua dan guru. Risfa akan membuktikan bahwa Risfa bisa berubah, Pak. Meskipun bapak tidak lagi dapat melihat perubahan saya. Selamat jalan untuk selamanya, Pak Amri. Saya akan selalu menerapkan nasihat yang pernah bapak katakan pada saya. Selamat jalan pahlawan terhebatku. Semoga bapak ditempatkan Allah di tempat yang sebaik-baiknya. Aamiin…, kata Risfa dalam hati.
            Kini Risfa pun telah berubah menjadi sosok pelajar yang bertanggung jawab atas kewajibannya sebagai seorang siswi. Ia terus melaksanakan semua nasihat yang pernah diberikan Pak Amri untuknya. Baginya, Pak Amri adalah sosok yang lebih dari pahlawan.

0 komentar:

Posting Komentar